Filosofi Panahan Dalam Konsep Capacity Building

July 29, 2018

“Anak panah hanya akan melesat saat sang pemanah menariknya ke belakang. Jika kita berkaca pada konsep Capacity Building, saat tekanan menyeret kita ke belakang, hal ini bermakna bahwa kita memiliki kemungkinan untuk diluncurkan atau dihadapkan pada sesuatu yang jauh lebih hebat. Jadi, fokuslah dan tetap membidik.”

 

Konsep Capacity Building seyogyanya tidak hanya memberikan modul atau materi yang membuat peserta hanya menerima atau mendengar. Sebagai salah satu provider Capacity Building, Jemari Tiga Sinergi sangat memegang pemikiran bahwa dengan memberikan pengalaman saat pemberian materi atau disebut juga Experiential Learning, setiap pembelajaran akan lebih mudah diterima, dan bahkan dikembangkan oleh peserta.

 

Panahan sendiri memiliki value yang sangat sesuai bagi Capacity Building, sebut saja cakupan aspek dasar yang dimiliki dalam Panahan; seperti: aspek afektif, kognitif dan psikomotorik. Mengingat kedalaman aspek yang dimiliki panahan, jelas sudah jika penguasaan emosi yang fokus, pengendalian mental yang stabil serta kekuatan energi yang terencana.

 

 

Hal selanjutnya yang tersirat dengan kuat dalam panahan adalah kekuatan menguasai pikiran sendiri, dengan kata lain konsentrasi atau fokus adalah main soul yang utama saat busur akan dilesatkan. Value ini adalah sebuah poin guna meningkatkan kapasitas pribadi saat dihadapkan pada situasi yang mengharuskan kita mengambil keputusan dengan cepat.

 

Uniknya, panahan juga mengandung pembelajaran yang membiasakan kita untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan keputusan tersebut dengan matang. Karena jika kita tidak memastikan busur dalam kondisi sempurna, dan memastikan kekuatan rentang tali panah juga hanya memilih anak panah yang lurus dan prima. Tak pernah ada kemampuan untuk menembak, melepaskan anak panah ke sasaran.

 

Dalam kenyataannya, aksi memanah juga akan mengajarkan pengalaman luhur akan ketangguhan hati dalam menetapkan sasaran yang dinamis. Setiap insan yang terlibat bahkan harus siap menghadapi kegagalan bahwa tembakan busur tidak mengenai sasaran, dan dalam hitungan detik harus bersiap kembali melesatkan busur ke sasaran kembali.

 

Pada saat penerapan konsep Capacity Building yang mengaktivasi nilai-nilai panahan, Jemari akan menggagas beragam scenario. Situasi yang disusun sesuai ekspektasi dan harapan klien pada program, sekaligus juga parameter yang bisa menjadi tolok ukur standar penerapan konsep Capacity Building.

 

Contoh paling aktual berkaitan dengan pendekatan metode experiential learning dalam konsep capacity building menggunakan media panahan ini dituangkan dalam dua skenario besar kegiatan, seperti yang dijalankan bersama DJPPR Kemenkeu RI pada medio Juli 2018. Pertama, nilai-nilai leadership melalui aktivitas panahan dalam konsep capacity building ini digali melalui skenario archery shooting. Tiap peserta dalam konsep capacity building ini diperkenalkan teknik memanah yang baik dan benar dengan menitikberatkan bahasan pada nilai-nilai fokus dan pengerahan kemampuan secara maksimal.  

 

Tahapan berikutnya, skenario battle antar kelompok kecil menjadi aktivitas dalam konsep capacity building menggunakan media panahan ini. Nilai-nilai fokus dan best effort dikolaborasikan penggaliannya dengan nilai-nilai strategic planning dan kerjasama tim. 

 

Pendekatan experiential learning yang dipadu beragam value yang relevan, akan selalu menjadi platform konsep capacity building Jemari yang digagas bagi peningkatan kapasitas kepribadian bersama.

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Cari Arsip Artikel

Please reload

Baca Juga :