Penting Dibaca Sebelum Memilih Outbound Provider

September 15, 2017

Ini sedikit pengalaman saya mengikuti sebuah tender outing di perusahan swasta multinasional. Sebuah term of reference dikirimkan kepada saya dua hari sebelum aanwijzing. Terbersit 'kebahagiaan' saya saat mendapati experiential learning secara eksplisit tercantum dalam TOR tersebut sebagai pendekatan yang diambil untuk men-delivery muatan kegiatan. Pasalnya, ditengah maraknya games outbound (yang juga didekatkan sebagai implementasi metode EL) karena pertimbangan costnya yang murah, ternyata ada sebuah outing ber-budget lebih dari 1 milyar yang dengan kentara jelas meminta experiential learning digunakan sebagai metodenya.

 

Dalam benak saya, aanwijzing akan dihadiri oleh beberapa penyedia layanan kegiatan berbasis experiential learning dan kemungkinan besar saya akan bertemu dengan kawan-kawan seprofesi sebagai 'lawan tanding' dalam tender ini. Kenyataannya, dalam aanwijzing tersebut saya tidak menemukan bayangan tersebut. Dari empat organizer yang hadir, saat itu rasanya hanya saya yang benar-benar sebagai EL Organizer, tiga lainnya yang hadir adalah organizer yang bukan berbasis EL. Salahkah kondisi ini ? Tidak, semuanya tetap sah-sah aja dari banyak aspek tinjauan. 

 

Dari fenomena ini secara cepat saya menyimpulkan bahwa user sudah memahami uniknya metode ini untuk digunakan sebagai 'kendaraan' menuju sasaran kegiatannya. Hanya saja user belum tahu organizer seperti apa yang semestinya dipanggil untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut. 

 

Seperti saya sampaikan diatas, bahwa kondisi ini tetaplah sah. Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap eksistensi rekan-rekan organizer dari segmen lain, saya menyayangkan kondisi seperti ini. Kalau saja user sudah mengetahui segmen organizer mana yang harus diundangnya dalam brief session ini, tentunya proses fact finding dalam menemukan the real need dari event ini bisa berjalan maksimal karena beberapa praktisi EL yang hadir bisa saling melengkapi penelusuran kebutuhannya. Sehingga fact finding tidak melulu berkutat pada hotelnya harus bintang berapa, kulinernya jenis apa, pakai seragam atau tidak, dan aspek-aspek lain yang sebenarnya merupakan sumber daya pendukung dalam outing berbasis experiential learning.

 

Ini jadi pekerjaan rumah bagi praktisi EL untuk mengedukasi pasar dengan cara lebih memperkenalkan tentang profesi dan kompetensi yang dimilikinya. Kawan, maka narsislah, hehehehehe.

 

Sebenarnya ada cara-cara yang sangat mudah dilakukan oleh calon pengguna layanan outbound atau kegiatan experiential learning lainnya untuk mengenali organizer-organizer yang memang benar-benar berbasis experiential learning. Simpel banget kok.

 

Di Indonesia, sejak tahun 2007 sudah ada sebuah asosiasi yang menaungi lembaga dan praktisi experiential learning di Indonesia. Namanya Asosiasi Experiential Learning Indonesia dan akrab dipanggil dengan AELI. Hingga sepuluh tahun eksistensinya, sudah ratusan anggota lembaga dan praktisi bergabung dalam wadah ini untuk turut sama-sama berjuang menjadi referensi utama perkembangan industri experiential learning di Indonesia.

 

Saran saya yang pertama, carilah anggota AELI untuk dijadikan partner dalam menjadi mitra dalam kegiatan perusahaan anda yang menggunakan EL sebagai metode kegiatannya.

 

Di Indonesia, AELI memang bukanlah satu-satunya organisasi yang mewadahi EL'ers Indonesia. Namun saya lebih memilih bergabung dan merekomendasikan asosiasi ini. kenapa ? pertama, AELI adalah asosiasi EL resmi yang pertama dan tertua di Indonesia. Bahkan, asosiasi ini didirikan oleh orang-orang yang sudah berkiprah saat masuknya dan maraknya EL di Indonesia pada era wal tahun 90-an. Artinya AELI memang benar-benar memahami perkembangan dan kebutuhan EL di Indonesia baik karakteristik EL rekreasional, edukasional, development maupun terapi. Kedua, AELI relatif memiliki jaringan terluas di Indonesia. saat ini sudah ada 18 pengurus daerah provinsi dan dalam waktu dekat beberapa provinsi lain akan segera bergabung di Indonesia. 

 

 

Saran saya yang kedua sebelum anda memutuskan bermitra dengan salah satu EL organizer adalah pertimbangkanlah memilih organizer yang sudah memiliki fasilitator bersertifikat nasional

 

Perlu di ketahui bahwa Indonesia sudah memiliki Standarisasi Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk bidang kepemanduan outbound / fasilitator experiential learning. Sertifikat ini diterbitkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Republik Indonesia. 

 

Sertifikat ini merupakan bukti bahwa pemandu yang bersangkutan telah lolos uji kompetensi tentang kompetensi kerja yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan kegiatan berbasis experiential learning dimana outbound adalah salah satu implementasinya. Ada sembilan unit kompetensi dalam SKKNI kepemanduan outbound / fasilitator experiential learning, antara lain :

  • Merencanakan program kegiatan rekreasi

  • Merencanakan kegiatan pembelajaran

  • Mengatur sumber daya untuk program

  • Melaksanakan program kegiatan rekreasi

  • Melaksanakan program kegiatan pembelajaran

  • Memandu kegiatan tali rendah

  • memandu kegiatan tali tinggi

  • Menganalisa resiko dalam kegiatan

  • Menolong korban

Keputusan memilih partner dalam berkegiatan EL tetaplah menjadi hak user sepenuhnya. Namun ada baiknya kedua saran saya diatas bisa dipertimbangkan sebagai rujukan anda memilih mitra EL Provider. 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Cari Arsip Artikel

Please reload

Baca Juga :