Plakat Itu Akhirnya Diserahkan Melalui Tangan Saya

June 11, 2017

Rundown acara 1 Dekade AELI yang dibuat sekjen AELI terpaksa saya gugat dengan dalih gak implementatif buat sebuah show yang menarik. Selain emang karena formatnya bikin pusing anak-anak show, ada tujuan lain yang saya sembunyikan dan saya obsesikan serta ingin saya selipkan dalam rundown itu. Sehingga dengan dalih itu dan dengan argumen bahwa  sayalah yang paling tinggi jam terbang soal urusan show management, maka saya seperti menjadi memiliki legitimasi untuk membedah rundown yang sudah dibuat oleh Sekjen. Dan itu saya lakukan di malam hari tepatnya 12 jam sebelum show 1 Dekade AELI berlangsung. Sehingga tipis kemungkinan rundown revisi buatan saya akan mendapatkan resisten dari kabid AELI yang lain.

 

Saya ingin nama sayalah yang tercantum dalam rundown pada bagian dimana diserahkannya lifetime achievement award kepada 7 legenda hidup pendiri Asosiasi Experiential Learning Indonesia. Itu saja target yang saya umpetin saat merevisi rundown.

 

Meski 'janggal' dalam tinjauan show management, seorang show director (kebetulan itu tugas saya di 1 dekade AELI) tetiba harus on stage, bernarasi dan meyerahkan penghargaan. Bodo amat ... harus saya yang melakukan penyerahan plakat penghargaan itu. Meski tetap menggunakan clear comm di kepala karena tetap harus mengontrol jalannya anak-anak show di FOH dan di backstage. Pokoknya, Bodo Amat !

 

Rundown berlangsung dan bergulir satu persatu sampai tibalah mata acara yang saya tunggu-tunggu, penyerahan AELI Lifetime Achievement Award. Wanti-wanti yang saya pesankan kepada tim multimedia, tampilkan looping motion AELI ACHIEVEMENT AWARD saat saya centring on stage. Dan mereka menjalankan mandatory ini dengan baik dan begitu presisi. Gerakkan Jimmy Jib dengan "lebay" supaya live streaming di youtube bisa tampil dengan dinamis khusus untuk sessi ini. The Jimmy Jibers pun melakukan tugasnya dengan baik.

 

Prolog saya gulirkan tentang sebuah karya yang dihasilkan oleh tujuh orang "gila" di sepuluh tahun yang lalu. Setenang mungkin saya sampaikan meski sebenarnya dada ini bergemuruh. Saya gak peduli dan bodo amat apakah audiense atau pemirsa youtube akan terbakar gelora semangatnya mendengar prolog yang saya sampaikan. Buat saya, yang penting saya harus terbakar dalam prolog yang saya lakukan sendiri. just that ..

 

Saya sebutkan dan saya antarkan ketujuh nama penerima AELI Lifetime Achievement Award naik ke atas panggung. Enam orang naik ke atas panggung satu persatu. satu dari ketujuh orang itu berhalangan untuk hadir. Dan, plakat itu akhirnya diizinkan Tuhan terserahkan melalui tangan saya. 

 

Kesempatan yang saya tunggu-tunggu pun tiba. Saya salami dan saya peluk mereka satu persatu. Saya bertabarruk pada mereka

 

Saya peluk dan saya bertabarruk pada mereka. 

 

Saya bertabarruk kepada sebuah ke-istiqomahan terhadap pencapaian cita-cita. Melahirkan sesuatu dari tak ada menjadi ada dan dalam situasi dimana sebagian besar orang skeptis pada sesuatu itu adalah bisa jadi merupakan hal gila. Namun lebih gila lagi tatkala kegilaan itu dibumbui dengan sebuah konsistensi serta keyakinan bahwa disatu titik waktu kegilaan itu akan bisa diterima oleh orang-orang yang pada awalnya skeptis bahkan apriori. Tak jarang saya menemui mereka hanya tersenyum saat mendengar cibiran dari si anu tentang karyanya. Senyum yang juga selalu dibumbui dengan konsistensi. Dan buktinya, karya mereka bertahan sampai saat ini. Dan yang mencibir belum menghasilkan satu karyapun yang mampu memadani karya sang legenda hidup. 

 

Dan menurut saya, itu keren !

 

Saya bertabarruk kepada sebuah sikap kesetiaan terhadap rekan seperjuangan. Hampir bisa dibayangkan suasana saat awal karya ini dilahirkan. Tujuh jagoan berkubang dalam satu kubangan. Beuuuh ... adu jago pastinya. ketidaksepakatan terhadap cara "berkubang" pasti sering terjadi. Ketidakpuasan A terhadap B atau sebaliknya, roman-romannya mah gak cuma sekali dua kali. Tapi yang gak pernah terjadi adalah penjelmaan kekecewaan dengan hal-hal yang lucu untuk melampiaskan ketidakpuasan akibat perbedaan cara pandang. Tak satu kalipun satu diantara mereka terdengar membuat gerbong baru yang warnanya bukan biru saat ada ketidakpuasan terhadap tata cara "berkubang" yang disepakati oleh lainnya. Tak pernah terdengar mungkin karena jalan yang diambil adalah dengan diam dan membiarkan rekan seperjuangan untuk bergerak menuntaskan cita-cta bersama tanpa harus diganggu jalannya. Diam yang dilakukan seolah-olah menghembuskan bisikan cinta, "saya gak suka caramu tapi gerbong kita harus tetap biru warnanya"

 

Dan menurut saya, itu ksatria !

 

Saya bertabarruk kepada sebuah sikap kesabaran terhadap badai apapun yang muncul di depan mata. Mata kepala saya sendiri menyaksikan dalam 3 tahun terakhir betapa banyaknya kesempatan yang diberikan kepada generasi-generasi baru untuk sama-sama berjuang namun rontok satu per satu karena dua hal, gak mampu menjalankan peran dan malas menunaikan kewajiban. Demi Allah saya banyak menyaksikan kejadian-kejadian lucu saat berada ditengah pusaran ini. Kartu anggota yang gak kunjung jadi dan akhirnya jadi issue nasional itu bukan karena terhambat karena urusan-urusan intelek. Itu ... Dan itu karena ada orang yang males ngurus desain, gak konsisten collect data dan gak kontek-kontek nyari vendor. Lucu tah ? Ketidakmapuan ini, kemalasan ini lah kok dibelokkan dan digulirkan sebagai ketidakbecusan organisasi ini. Kecewa katanya. Gak dihargai katanya. Akhirnya pendiskreditsian terhadap karya besar ini. Itu baru satu contoh. 

 

Lalu bagaimana sang legenda menghadapi pendiskreditsian ini ? Mereka tetap senyum. Senyum yang seolah mengajak orang-orang dalam gerbong biru ini tetap fokus di relnya untuk mencapai stasiun tujuan.

 

Dan menurut saya, itu cool !

 

Saya merasa beruntung menjadi orang pertama yang memeluk mereka. Cukuplah saya bertabarruk pada tiga hal diatas, keistiqomahan, kesetiaan dan kesabaran. Sudah terbukti tiga hal itu yang membuat karya sang legenda masih ada saat ini. Cukuplah pula membangun sebuah keyakinan bahwa tiga hal itu pula yang akan membuat gerbong biru tetap bergerak di rel nya dalam sepuluh tahun ke depan.

 

 

 

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Cari Arsip Artikel

Please reload

Baca Juga :

  • Grey LinkedIn Icon
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Google+ Icon
  • Grey YouTube Icon
  • Grey Instagram Icon