Main Di Ciliwung (bagian 4) | Mau mengasah sabar, konsistensi dan fokus pada tujuan ? Cobalah membuat kecap tradisional

November 13, 2016

Pernah mengetahui sepanjang apa proses membuat kecap ? Secara tradisional tentunya dan tanpa menggunakan mesin canggih. Ternyata membuat kecap ala rumahan sangat panjang prosesnya. Total waktu yang dibutuhkan sekitar 21 (dua puluh satu) hari. Woow ...

 

Kalau membutuhkan kecap untuk membuat masakan, sebenarnya sederhana aja kok. tinggal beli aja di warung atau mini market. Namun, tidak begitu bagi beberapa warna kampung cikambangan. Ada yang sengaja membuat kecap sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bagi saya dan rekan-rekan yang tengah melakukan pengarungan di Ciliwung Depok, mendapatkan informasi seperti ini membuat kami tertarik untuk sejenak transit dan menggali bagaimana dan apa yang ada dibalik produksi kecap rumahan di kampung cikambangan.

 

Adalah Ibu Sanimah, yang rumahnya kami singgahi, salah seorang warga kampung cikambangan yang rutin memproduksi kecap sendiri untuk kebutuhan rumah tangganya. Beberapa kali, namun tak sering, si Ibu membuat kecap rumahan ini untuk memenuhi pesanan orang-orang. Hal yang menggelitik kami adalah ternyata dengan proses produksi yang begitu panjang, ternyata biaya produksinya pun jauh lebih mahal ketimbang membeli kecap pabrikan di warung-warung kampung atau mini market. 

Daripada terus menerus tergelitik rasa penasaran, obrolan dengan Ibu Sanimah berlanjut dengan menggali bagaimana cara membuat kecap ala rumahan cikambangan. Dan ternyata dari paparan yang diberikan oleh Bu Sanimah, benar-benar tergambar betapa panjang proses produksinya. Sejatinya sebuah kecap, dimana ia adalah bagian dari sebuah masakan, beda kualitaspun tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas rasa sebuah masakan. Karena ia tidak bisa berdiri sendiri tanpa 'berkolaborasi' dengan rempah-rempah dan  bahan yang lainnya.

 

Dari sudut pandang efisiensi ekonomi mungkin lebih simpel bila kita beli aja kecap pabrikan. namun kunjungan kami di cikambangan ini, kami mendapatkan insight berharga dari kecap Ibu Sanimah.

 

Kami terinspirasi dari proses membuat kecap ini. Betapa dalam menghasilkan kecap ini, Ibu Sanimah begitu konsisten menjalani proses demi proses dengan begitu telaten dalam menghasilkan produk yang berkualitas. Salah satu yang dijalaninya adalah membuat kedele basah menjadi kedele kering dengan cara menempatkannya dalam satu wadah dan menutupnya menggunakan daun pisang. Proses ini berlangsung berhari-hari dan tidak boleh gagal. Tiap waktu secara berkala proses ini begitu telatennya dilakukan oleh Ibu Sanimah. Ada sikap mental fokus dan high quality process disitu. Mustahil bisa dilakukan oleh Ibu Sanimah tanpa adanya "rasa cinta" terhadap apa yang sedang dikerjakannya.

 

"Rasa Cinta" inilah yang terlihat dan sedikit menggambarkan kenapa si Ibu lebih memilih membuat kecap sendiri ketimbang membelinya di warung. Secara tidak langsung Ibu Sanimah mengajari kami tentang mencintai budaya dan tradisi sebagai akar sebuah bangsa. Mencintai kecap, bagi bu Sanimah, mungkin lebih dari sekedar membuat rasa masakannya menjadi seperti yang diharapkan. namun lebih dari itu, kecap adalah sebuah tradisi dan kearifan lokal yang perlu dijaga dan dicintai. Kecap menjadi identitas dan kebanggaan dirinya, sehingga rasa cintanya terhadap kecap rumahan ini begitu tinggi meskipun itu bukan mata pencarian pokoknya.

 

Maka, cintailah pekerjaan kita. Cintailah apapun yang kita kerjakan. Dengan cinta, passion dan effort kita tak akan mampu terhalang oleh apapun.

 

 

 

 

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Cari Arsip Artikel

Please reload

Baca Juga :

  • Grey LinkedIn Icon
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Google+ Icon
  • Grey YouTube Icon
  • Grey Instagram Icon