Main Di Ciliwung (bagian 1) | Stand Up Paddle Board

October 27, 2016

Dalam satu bulan terakhir agak sering saya mengunjungi sungai Ciliwung Depok. Awalnya saya mengunjungi lokasi ini dalam rangka survey lokasi atas permintaan salah satu klien saya yang punya rencana menggelar event yang berkaitan dengan Ciliwung. Disinilah pertama kali saya mengenal komunitas ciliwung depok yang "bermarkas"  di bawah jembatan Ciliwung Grand Depok City. 

 

Beberapa kali kemudian saya sambangi tempat ini, muncul sebuah "ketakjuban" dalam diri saya melihat Ciliwung Depok yang relatif masih bersih. Dalam benak saya selama ini, Ciliwung berkonotasi kotor, bau, bikin gatel, dan sampah numpuk. Komunitas Ciliwung Depok benar-benar konsisten menjaga kebersihan Ciliwung dan menghancurkan persepsi saya tentang ciliwung.

 

lama kelamaan asyik juga nongkrong disini. Tempatnya asyik, orang-orangnya pun bersahabat. Dan seperti kebetulan pula, seorang rekan saya, om Bob Heriyanto, pemilik Kaniki Action Partner yang salah satu layanannya adalah kegiatan luar ruang menggunakan stand up paddle board, bertanya-tanya tentang kemungkinan main SUP (stand up paddle board) di Ciliwung. langsunglah wacana itu diprogress. singkat cerita mengalunlah SUP di belahan Ciliwung Depok. Saya, om Bob, plus satu kawan lagi, bang sofyan, owner Red Avenue Indonesia mencoba-coba jalur baru untuk main SUP di Ciliwung Depok. 

 

Bermain SUP ternyata asik juga. exiting ! susah-susah gampang. yang paling serunya adalah di atas SUP benar-benar terasa sendiri menghadapi segala macam tantangan dan rintangan. Meskipun jeram di Ciliwung masuk kategori kecil, saat memasuki jeram sambil ber-SUP ria ternyata 'ndredeg' juga. tapi mau-mau gak mau jeram tetap harus dilewati toh?. lambat laun saya mulai menemukan bahwa bermain SUP bukan sekedar olahraga namun banyak insight yang termakna di dalamnya.

 

Rute pengarungan dimulai dari dimulai dari kampung cikambangan menuju 'markas' komunitas ciliwung depok di jembatan Grand Depok City. Sejenak transit di Kampung Ratu Jaya. Belum pernah diukur jarak tempuh rute pengarungan ini. Tidak jauh kok, kalau tanpa transit, dalam waktu 45 menit sudah selesai. Tapi justru karena rutenya asik, jadi seperti ingin berlama-lama di Ciliwung dan pengarungan dilakukan dengan speed yang santai.

 

Dari speed yang santai inilah akhirnya bisa menemukan beberapa muatan lokal di sepanjang rute pengarungan. Di kampung cikambangan terdapat produksi kecap rumahan dan berbagai jenis kue tradisional khas cikambangan. Di kampung Ratu Jaya juga ternyata ada yang mengembangkan seni lukis batu koral dan bambu serta kesenian musik yang menggunakan alat-alat yang terbuat dari bambu. Muatan-muatan lokal inilah yang membuat pengarungan SUP menjadi begitu berwarna karena bisa sambil menikmati budaya di sekitar ciliwung depok.

 

Diujung pengarungan benar-benar berubah apa yang saya pikirkan tentang ciliwung. Kesan sampah, limbah, bau dan kotor ternyata masih kalah kuat dengan apa yang saya ceritakan di atas. Kalau saja ini bisa dirasakan manfaatnya oleh warga di sepanjang bantaran sungai, saya yakin akan mampu merubah mindset dari "harus membersihkan sungai" menjadi "kita butuh sungai yang bersih".

 

 

 

 

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Cari Arsip Artikel

Please reload

Baca Juga :