'ngerasain' seluk beluk dunia anak film dan menggali pengalaman serta nilai-nilai positifnya

June 19, 2016

Satu hari di pertengahan Juni saya dapat kesempatan ikutan syuting video profil Dreamyland (salah satu unit bisnis yang saya punya). Syuting seharian di gunung pancar ini full pake resource yang ada di kantor saya, Jemari Tiga Sinergi. Kalo secara hasl mah pasti kalah jauh sama hasil anak film yang 'gak gadungan' seperti saya. 

 

Tapi buat seorang ELP (experiential learning programmer) seperti saya, seluk beluk gawean anak film bisa jadi satu hal menarik yang buat didalami. tentu yang didalemin bukan dari aspek teknis pembuatan filmnya. Eike lebih tertarik ngedalemin gimana bikin pengalaman baru ini jadi media pembelajaran. Belajar apa ? ya belajar apa aja, yang bakal memberi masukan baru buat kita untuk menjadi orang yang lebih baik lagi. Dan ternyata memang cukup 'seru' prosesnya. Seru yang dimaksud disini adalah bukan hingar bingar layaknya sebuah konser, tapi lebih pada ternyata 'njlimet' juga ya dunia kerja anak-anak film. Kalau film nya sudah jadi sih, kita tinggal nonton saja, tapi bo ... sumpeh deh, gak gampang bikinnya.

 

Bagi kita yang bukan pelaku pekerjaan ini akan menemukan banyak 'ketidaknyaman' yang muncul karena memang ini adalah bukan dunia keseharian kita. Kendati begitu, tetap saja stock shoot dan dateline produksi harus terpenuhi. Sehingga kita dipaksa berproses dalam bukan zona nyaman kita. nah inilah yang akan menghadirkan dinamika dalam prosesnya sehingga value akan muncul dengan sendirinya untuk kita pelajari.

 

Terlebih lagi yang berproses dalam aktivitas yang beda dengan keseharian ini ada beberapa orang dalam satu kelompok. Jadilah lebih seru dinamikanya karena ada lebih banyak kepala yang berpotensi 'panas' saat harus melakukan storming bahkan mungkin manajemen konflik. 

 

Ehemmm ... pengalaman inilah yang membuat saya tertarik untuk menarik dinamika ini ke dalam sebuah alur skenario outbound bermuatan team building dan melalui pendekatan experiential learning. Keseruan ini bisa jadi alternatif baru buat menggantikan games-games yang biasa dimainkan dalam sebuah program outbound. Seperti sebuah 'guyonan' salah satu client saya, "outbound gak harus melulu urusan lempar-lempar bola kan ?".

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Please reload

Cari Arsip Artikel

Please reload

Baca Juga :